Kamis, 18 Maret 2010

Aku Seorang Istri yang Ternoda

Namaku Anggun, aku seorang perempuan berusia 27 tahun dan aku sudah menikah sejak dua tahun yang lalu. Walaupun aku belum mempunyai anak tetapi hubunganku dan suamiku tetap harmonis saja karena memang suamiku memintaku untuk melakukan KB dengan pil sehingga mencegah kehamilan karena memang dia belum siap mempunyai momongan karena tanggung jawabnya memang sangat besar. Lagi pula sekarang dia belum menetap di satu kota karena dia bekerja di perusahaan yang sering menugaskannya untuk berpindah lokasi dinas. Setelah menikah saja setidaknya kami sudah pindah di tiga kota. Sehingga tak ada kesempatan untuk merencanakan kehidupan menetap di satu kota saja dan itu juga alasan mengapa kami memilih tinggal di tempat kost karena lebih mudah jika suatu waktu suamiku dipindah tugas lagi. Suamiku bernama Bramantya, aku memanggilnya mas Bram, dia berusia dua tahun diatasku. Sifatnya yang penyabar dan kebapakan benar-benar membuatku semakin beruntung saja memiliki suami sehebat dirinya. Kalau soal ganteng sih, wajahnya cuman biasa-biasa saja walaupun dulu waktu kami pacaran sempat ada perempuan lain yang juga naksir padanya. Tempat kost kami ini berlantai tiga di mana tiap lantainya dihuni oleh berbagai macam jenis orang mulai dari pedagang, sales, pegawai kantor hingga mahasiswa. Lantai pertama dihuni oleh pembantu yang merangkap tukang cuci dan seterika, penjaga kost dan beberapa kamar dihuni oleh para pegawai dari sebuah instansi pemerintah. Lantai kedua adalah yang paling ramai karena terdapat 15 kamar didalamnya dan lantai kedua ini benar-benar tertutup dari bagian luar karena satu-satunya penghubung dengan bagian luar bangunan adalah jendela di sebuah balkon kecil sementara itu untuk ventilasi hanya terdapat jendela-jendela berteralis yang berukuran sangat kecil di tiap kamar. Aku dan suamiku tinggal di lantai dua ini. Lantai tiga terdapat sedikit kamar yang bercampur dengan tempat untuk menjemur pakaian. Di lantai ini aku tidak begitu kenal dengan penghuninya karena mereka bekerja larut malam dan baru pulang pagi harinya.
Saat itu aku sedang membaca sebuah majalah ketika aku mendengar hp ku berbunyi. Ternyata mas Bram meneleponku untuk mengabarkan kalau nanti malam dia lembur dan mungkin baru bisa pulang besok karena kebetulan dengan kepindahan bosnya yang sekarang dan pergantian dengan bos yang baru membuat banyak pekerjaan kantor harus lebih cepat diselesaikan sebelum tenggat waktu yang seharusnya. Aku maklumi itu karena aku tahu kalau suamiku merupakan pekerja yang rajin dan bertanggung jawab terhadap pekerjaannya. Aku melongok ke jam dinding. Sekarang sudah pukul 10 malam dan aku sendiri bingung mau ngapain karena jujur saja di kamar kost kami sama sekali tidak ada hiburan kecuali televisi. Kebetulan acaranya malam itu membosankan sehingga bertambah lengkap kebosananku terhadap malam ini. Biasanya jam segini sih aku dengan mas Bram sedang ngobrol atau setidaknya bisa tidur bareng sehingga aku tidak merasa sendirian seperti sekarang ini. ‘Tok tok tok’ aku mendengar suara pintu kamarku diketuk. Apakah mas Bram pulang malam ini? Mungkin saja pekerjaannya lebih cepat selesai sehingga dia dapat pulang lebih cepat. Setelah kubuka bukannya aku gembira tapi malah kecewa. Ternyata yang mengetuk pintuku adalah seorang tetangga kost yang kamarnya berada di sebelah kamarku. Namanya Rusdi, dia seorang sales di sebuah perusahaan mobil ternama dan dia sudah cukup lama tinggal di tempat ini.
“Ada apa mas Rusdi? Kok malam-malam belum tidur?” tanyaku berusaha sopan walaupun aku mencium bau alkohol dari mulutnya itu. Tidak begitu keras sih tetapi mengganggu juga lama-lama.
“Anu mbak. Saya ada perlu sebentar kok. Ada yang mau saya bicarakan.” Kata Rusdi sambil melongok kekamarku dan sepertinya dia melihat kalau suamiku tidak ada didalam.
“Aduh, mas Bram belum pulang tuh. Nanti aja kalau udah pulang saya minta dia supaya ke kamarnya mas Rusdi aja.” Jawabku sambil berusaha menutup pintu tetapi terhalang oleh salah satu tangan Rusdi.
“Wah kebetulan mbak. Yang mau saya bicarakan tuh nggak ada hubungannya dengan mas Bram tapi sama mbak Anggun aja kok.” Jawabnya dan jawaban itu benar-benar membuatku tambah bingung aja. Apa sebenarnya mau si Rusdi ini.

“Begini mbak. Maksud kedatangan saya kemari adalah untuk meminta pertimbangan mbak Anggun. Soalnya saya malu untuk minta pertimbangan dari cewek lain di kost ini.” jelasnya walaupun dalam hati aku masih bingung juga maksud dari pembicaraannya ini.
“Maksudnya meminta pertimbangan apa yah?” kataku mencoba untuk memperjelas perkataannya barusan.
“Begini mbak. Besok khan teman perempuan saya mau merayakan ulang tahun dan kebetulan saya cukup dekat dengan dirinya. Nah saya itu bingung mau ngasih kado apa, tapi kata temen ceweknya dia pernah curhat kalau lagi pengen beli satu set pakaian dalam yang dari merk ternama. Masalahnya saya khan nggak tau ukurannya berapa. Kalau saya tanya langsung khan jadi nggak surprise lagi mbak.” jelas Rusdi sambil menatapku tajam.
Aku mencoba untuk menghindari tatapannya itu tapi sepertinya susah juga mengingat dia duduk di depanku saat ini dan ruangan kost ini juga sempir.

“Terus? Saya khan juga nggak tahu temannya mas Rusdi itu badannya seperti apa. Jadi bagaimana mungkin saya bisa memberikan solusi buat mas?” jelasku lagi padanya.
Rusdi tersenyum. “Kalau itu sih nggak usah khawatir mbak. Karena postur tubuh teman saya itu sama persis dengan mbak walaupun nggak secantik mbak Anggun.” katanya lagi. Terus terang saja aku enggan memberi tahu nomor pakaian dalamku kepada orang luar tetapi sepertinya cuma itu satu-satunya cara agar dia segera keluar dari kamar ini. Akhirnya aku memberikan nomor ukuran pakaian dalamku kepada Rusdi dan pria itupun akhirnya beranjak pergi dari kamarku setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih dengan sedikit senyuman tersungging di bibirnya.

Paginya mas Bram pulang sekitar jam 6 pagi lalu tertidur. Hari itu dia bilang kalau dia diliburkan oleh bos-nya karena sudah semalaman lembur. Seperti biasa aku merawat seluruh keperluannya dan menyiapkan makanan untuknya jika sudah terbangun nanti, seperti layaknya seorang istri yang setia pada suaminya.
“Siang mbak Anggun, tumben jam segini baru belanja.” sapa seorang teman kost yang merupakan mahasiswa tingkat akhir. Namanya Erdi, dia asli dari sebuah kota kecil di Jawa Timur. Terbiasa dengan kerja keras sejak kecil membuatnya terlihat mempunyai tubuh yang kekar dan berotot. Macam binaragawan saja batinku dalam hati tiap melihat lekuk tubuh pemuda ini.
“Iya nih, soalnya mas Bram baru saja pulang tadi jam 6 soalnya lembur jadi nggak sempat belanja. Kuliah jam siang yah?” tanyaku pada Erdi dan pemuda ini mengiyakan sambil tersenyum ramah.

Lalu dia buru-buru menstater motor tuanya untuk menuju kampus tempatnya kuliah. Dia mungkin salah satu penghuni kost yang baik-baik menurutku karena tidak pernah macam-macam. Sekitar dua hari kemudian aku dikejutkan dengan sebuah paket yang ditujukan padaku. Aku buka paket itu dan betapa terkejutnya aku karena isi paket itu adalah satu set pakaian dalam yang super seksi bewarna hitam dan ukurannyapun sesuai dengan ukuran tubuhku. Aku heran dan menebak-nebak siapa yang mengirim ini semua dan jawabanku adalah Rusdi. Mengingat cuma dia seorang yang mengetahui ukuran pakaian dalamku selain mas Bram. Lagipula dia pernah berkonsultasi untuk hal ini sebelumnya. Aku melihat kearah pintu kamar Rusdi dan sepertinya dia tidak ada di kost waktu itu, aku bermaksud untuk mengembalikan pakaian dalam ini kepadanya. Jujur saja aku merasa sangat terganggu, untungnya mas Bram tidak ada disini sekarang ini.

Malamnya aku mendapatkan telepon dari mas Bram kalau dia sedang ada pekerjaan lembur malam ini dan sekali lagi aku ditinggal sendirian dalam sepi di tempat kost ini.
Sekitar jam 10 malam pintu kamarku diketok oleh seseorang. Begitu kubuka langsung aku kaget karena yang datang adalah Rusdi tetangga kost ku.

“Mas Rusdi ada apa malam-malam gini?” tanyaku dengan nada tidak menyenangkan.
Sekali lagi aku mencium aroma alcohol dari mulut pria ini.

“Begini mbak, saya ada sesuatu yang harus saya bicarakan dengan mbak Anggun. Ini penting mbak.” katanya padaku.
Aku dari awal sudah tidak senang dengan cara orang ini berperilaku langsung saja aku utarakan kegusaranku terhadapnya.

“Mas Rusdi, begini yah mas. Jujur aja saya nggak begitu suka dengan cara mas Rusdi selama ini. Ini udah kelewatan mas. Buat apa sih mas kirim paket yang tidak senonoh seperti itu?” kataku dengan nada keras.
Sejenak terbersit raut wajah bingung di wajahnya tetapi aku sudah terlanjur dongkol terhadap pria ini sehingga tidak aku gubris sama sekali.

“Maksud mbak ini apa? Paket apaan?” tanyanya pura-pura tidak tahu.
“Udah deh mas. Saya juga udah males menjelaskan. Saya mau tidur, permisi.” kataku ketus sambil menutup pintu kamar.

Aku sudah benar-benar muak dengan pria ini. Apa sih maunya sebenarnya. Sekitar seminggu kemudian, mas Bram mendapatkan tugas dari kantornya untuk pergi keluar kota selama 3 hari 2 malam. Kantornya menyuruh mas Bram untuk membenahi permasalahan di kantor cabang yang ada dikota itu. Mas Bram berkata kalau dia berhasil menyelesaikannya dengan baik maka dia bisa dipromosikan menjadi manager operasional di kantornya sekarang berhubung posisi tersebut sedang kosong. Maka sebagai istri aku hanya bisa rela saja, toh kalo dia dipromosikan sebagai manager maka kami akan mendapatkan rumah dinas sehingga tidak perlu kost lagi.

Malam harinya aku pergi keluar kost untuk mencari makan di luar, dan seperti biasa aku membungkusnya karena aku kurang nyaman jajan di luar tanpa suamiku. Saat aku sampai di kost aku melihat suasana kost sudah sepi, Erdi tak terlihat disini karena biasanya dia selalu stand by di pintu masuk kost ini seperti satpam saja pikirku. Mungkin dia masih sibuk mengerjakan skripsinya sehingga harus kembali menginap di rumah temannya.
Lantai satu seperti tanpa penghuni begitu juga lantai dua. Semuanya sepi bahkan di saat seperti ini aku sempat berharap kalau Rusdi ada di kost karena sejujurnya aku ini tipe orang yang penakut jika sendirian. Sejenak aku mendengar suara tape dari lantai 3, aku lega karena ternyata ada orang juga di kost ini selain aku. Jam 11 malam dan suasana kost masih tidak berubah, hanya terdengar suara kaset tape dari lantai tiga dan nyanyian merdu dari Bryan Adams. Saat aku akan tertidur tiba-tiba pintu kamar terbuka. Memang aku tidak menguncinya tetapi aku yakin kalau aku sudah menutupnya dengan rapat sehingga tidak mungkin ada angin yang mendorongnya. Dengan was-was aku melihat apakah ada orang dibalik pintu itu dan ternyata tidak ada. Ah mungkin cuma angin dan aku juga tidak begitu yakin telah menutup dengan benar pintu tersebut, pikirku dalam hati.
Saat aku akan menutup pintu itu kembali tiba-tiba muncul sebuah tangan pria yang langsung mencekal tanganku sementara tanganku yang satunya langsung dicekal ke belakang tubuh dengan kasar. Aku mencoba berteriak tetapi belum sempat suaraku keluar, pria tersebut membanting tubuhku ke atas tempat tidur. Aku mencoba berontak tapi apalah daya karena tenaga pria ini benar-benar diatasku jauh. Pria ini menindihku yang sedang kesakitan karena bantingan tadi dan langsung mencoba melucuti pakaianku yang kala itu hanya menggunakan daster warna jingga. Aku melihat pria bertopeng ini dengan ketakutan yang amat sangat, aku tahu apa yang ingin dia lakukan kepadaku namun aku tak mampu untuk melawan dirinya itu. Dia sepertinya tidak sabar lagi dan merobek pakaianku sehingga sekarang aku tinggal mengenakan celana dalam mengingat aku tidak pernah memakai bra tiap kali aku tidur.

Teriakan dan umpatanku juga tidak dia tanggapi sama sekali, pria ini hanya membisu sambil terus berusaha melucuti seluruh pakaianku hingga akhirnya lolos juga celana dalamku ditangan pria ini. Dia sepertinya terkesima melihat kemaluanku yang rapih tercukur. Dengan kulit putih mulusku ini memang sangat menggoda, bahkan mas Bram yang sudah sering bercinta dengankupun tidak ada bosan-bosannya melihat tubuhku ini.
Pria itu lalu membuka celananya dan membetot keluar batang kemaluannya. Sekarang keringat dingin mulai membasahi tubuhku. Teriakanku sepertinya tidak ada yang mendengarkan, mungkin karena struktur lantai dua kost ini yang sangat tertutup sehingga kedap suara. Aku sadar sebentar lagi pria misterius ini akan menyetubuhi diriku. Penisnya yang begitu besar bahkan sudah membuatku merasa ngilu hanya dengan melihatnya saja. Bahkan milik mas Bram saja paling hanya dua pertiga dari milik pria ini.
Pria itu lalu mengangkat kedua pahaku dan menekannya kearah perutku sehingga aku menjadi sedikit sesak nafas. Aku yang sudah lemas melawan dari tadi hanya bisa pasrah melihat detik-detik dimana ujung kemaluan pria itu semakin lama semakin dekat saja dengan bibir vaginaku. Seperti yang kutakutkan sebelumnya, akhirnya pria itupun melesakkan batang kemaluannya yang sangat besar itu melewati himpitan bibir kewanitaanku yang masih rapat ini. Aku menjerit dan memohon ampun supaya dia tidak memperkosaku tetapi apa daya karena jeritanku tidak diindahkannya sama sekali. Sekarang bahkan ujung kemaluannya sudah melesak seluruhnya kedalam vaginaku tinggal bagian batang dan pangkalnya saja yang masih ada diluar.
“Akhh…sakit. Ampun! Jangan perkosa saya!” jeritku memelas tapi lagi-lagi tak ada reaksi dari pria ini.

Dia malah semakin mempercepat proses penetrasinya sehingga membuat rongga vaginaku semakin sakit saja. Bibir kemaluanku bahkan seperti robek menjadi dua karena dipaksa menerima batang kejantanan sebesar bonggol jagung itu. Lagi-lagi aku menjerit tetapi kali ini hanya jeritan kecil dan lemah karena aku sudah kehabisan tenaga untuk berteriak dan menjerit lagi.

Sekarang tinggal suara desahan dan rintihan pelan yang terdengar tiap kali pria ini menyodokkan batang kemaluannya nyang besar itu didalam vaginaku dan mengaduk-aduknya dengan berbagai macam arah dan gaya. Setelah sekian lama baru kali ini aku kembali merasakan seperti diperawani untuk yang kedua kalinya. Dulu aku juga pernah merasakan rasa sakit seperti ini ketika diperawani oleh mas Bram, suamiku. Pria itu diam tak bicara ketika mendengar aku meminta ampun dan merintih kesakitan. Dia bahkan sepertinya semakin bernafsu saja begitu mendengar aku yang semakin lemah tak berdaya ini menjerit dan merintih. Dalam lima belas menit kemudian pria ini mempercepat sodokannya dan dia mengakhirinya dengan sebuah sodokan yang kencang dan dalam pada vaginaku. Aku mendongakkan kepalaku menahan rasa sakit yang hebat ketika pria itu menyetubuhiku dengan kasarnya. Sesaat kemudian aku merasakan penis raksasa itu berkedut keras lalu aku merasakan adanya cairan hangat membasahi rongga rahimku. Aku shock bukan main ketika menyadari kalau pria ini berejakulasi didalam rongga kemaluanku. Aku takut hamil dan terlebih lagi aku jijik menyadari kalau ada pria asing yang tak kukenal memperkosaku dan menyemprotkan cairan spermanya di dalam vaginaku. Aku pingsan entah untuk berapa lama.
Begitu aku bangun aku mendapati sudah nyaris pagi dan tubuhku yang tergolek tanpa mengenakan sehelai benangpun ini merasakan dingin luar biasa. Kepalaku sedikit pusing dan mencoba untuk menyadarkan diri sendiri kalau aku telah diperkosa oleh orang asing. Tangisku tak pelak lagi meledak memenuhi ruangan ini. Tanganku meraba selangkanganku dan mendapati sedikit noda darah segar disertai cairan putih kental yang sangat banyak yang aku tahu itu adalah sperma dari pemerkosaku tadi. Entah sudah berapa kali dia memperkosaku sampai cairan maninya keluar begitu banyak dari kemaluanku ini. Sesaat kemudian terdengar suara sms masuk. Aku buka sms itu dan aku terkejut ketika sms itu berasal dari pemerkosaku yang berbunyi “Aku sudah ambil foto kamu pas lagi bugil. Awas kalau sampai lapor polisi. Aku bakalan sebarin keseluruh orang.”
Seketika aku lemas tak berdaya dan beberapa saat kemudian sms dari mas Bram muncul menanyakan keadaanku. Aku jawab kalau aku baik-baik saja dan menyuruhnya cepat pulang. Seandainya dia tahu kalau istri tercintanya telah habis dinikmati tubuhnya oleh orang lain entah apa reaksi suamiku itu.

2 komentar: